Musim panas tahun 1991, sebuah langkah besar menyeberangi lautan dimulai. Berbekal sebundel surat tua berikat pita merah-putih-biru dan sebuah wasiat dari mendiang ibunya di Belanda, seorang pria Indo-Belanda yang kini menjadi anggota parlemen melangkah kaki ke bumi Indonesia. Misinya hanya satu: mencari sosok ayahnya yang tak pernah ia kenal seumur hidupnya.
Pencarian itu membawanya ke Panebong, sebuah desa terpencil yang berselimut sepi dan sejarah kelam di pedalaman Banten. Di sana, memori tentang ayahnya, Kartiwa, ternyata masih hidup dengan begitu lekat. Kartiwa adalah pria pendiam dengan tatapan mata yang dalam, pemuda yang dahulu membuai desa lewat alunan merdu serulingnya, sekaligus sosok pejuang yang memimpin palagan heroik melawan kolonial.
Namun, semakin dalam ia mencari, semakin banyak rahasia masa lalu yang terkuak dari tanah Panebong—bumi yang tak pernah khilaf menyimpan kejutan takdir. Di balik wibawa sang ayah, tersimpan jaring asmara yang rumit, cinta segitiga yang mengiris hati, pengorbanan berdarah, hingga luka mendalam dari masa penjajahan yang tak pernah benar-benar sembuh. Dan di atas segalanya, ada satu teka-teki yang tak masuk akal: mengapa Kartiwa, sang mantan tentara pejuang kemerdekaan, memilih mengasingkan diri di gubuk tua dan tidak pernah sekalipun mengambil uang pensiunnya?
Lalu, tepat ketika pintu kebenaran hendak diketuk, kesunyian malam mendadak koyak oleh derap langkah sepatu laras yang mengepung kediaman mereka.
Akankah secangkir kopi terakhir itu menyatukan kembali kerinduan batin yang terpisah dua bangsa? Ataukah kedatangan sang anak justru membuka kembali kotak pandora dari dendam dan konflik masa lalu yang belum usai?