Di tengah puing-puing Jepang pasca-Perang Dunia II, sebuah dunia lama sedang sekarat. Kazuko, seorang wanita muda dari kalangan aristokrat yang kini jatuh miskin, harus menyaksikan ibunya perlahan layu bagai kelopak bunga terakhir di musim gugur. Di sisi lain, adiknya, Naoji, pulang dari perang dengan jiwa yang hancur—menenggelamkan diri dalam candu dan keputusasaan demi melarikan diri dari realitas yang asing.
Di era ketika nilai-nilai lama runtuh dan moralitas baru belum lahir, mereka adalah generasi “Matahari Terbenam”.
Namun, di balik bayang-bayang kehancuran dan duka yang mencekam, Kazuko menolak untuk ikut padam. Melalui cinta yang terlarang, pemberontakan yang sunyi, dan keteguhan hati yang luar biasa, ia memilih menentang arus zaman. Ini bukan sekadar kisah tentang kepunahan sebuah kelas sosial, melainkan manifesto yang intim tentang perjuangan manusia untuk menemukan seberkas cahaya di titik paling gelap dalam hidup mereka.
“Sebuah potret yang sangat tajam dan menghanyutkan tentang hancurnya sebuah zaman. Dazai menangkap keputusasaan dengan keindahan yang begitu memukau hingga terasa magis.”
—The New York Times
“Dazai memiliki kemampuan langka untuk melukiskan luka terdalam manusia dengan tinta yang paling indah. The Setting Sun adalah puncak dari kejujuran emosionalnya.”
—Yukio Mishima (sastrawan legendaris Jepang)
“Lebih dari sekadar kisah pascaperang, novel ini adalah perayaan tentang ketahanan jiwa manusia. Intim, puitis, dan tak akan pernah lekang oleh waktu.”
—The Guardian